January 15, 2026
January 15, 2026

Menjembatani Teknologi dan Konservasi: Refleksi Project Manager HCV Network, Mirzha Hanifah, dari Tiga Inisiatif Lanskap di Indonesia

Pada pertengahan Juli, saya melakukan perjalanan perdana ke Kabupaten Seruyan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Sertifikasi Yurisdiksi bersama mitra HCVN, Kaleka. Tujuan perjalanan ini mendampingi konsultasi publik untuk memvalidasi peta indikasi Nilai Konservasi Tinggi (NKT). Konsultasi ini dipadukan dengan hasil pemetaan partisipatif yang dilakukan Kaleka dalam memetakan tata guna lahan di masing-masing desa. Dalam proses Sertifikasi Yurisdiksi, baik pemetaan partisipatif di desa, hingga konsultasi publik untuk memvalidasi peta indikasi NKT, memiliki peran krusial karena keduanya memastikan bahwa informasi spasial yang digunakan dalam proses sertifikasi bukan hanya akurat secara teknis, melainkan juga memiliki legitimasi secara sosial.

Terbiasa membaca pola dan perubahan pada skala lanskap melalui citra satelit dan data spasial, perjalanan saya menuju Seruyan Hulu memberi kesempatan merefleksikan bagaimana proses verifikasi sosial seperti konsultasi publik menjadi jembatan penting agar peta NKT tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga relevan dan dapat digunakan dalam pengambilan keputusan oleh mereka yang mengelola dan bergantung pada lanskap tersebut.

Berawal dari Seruyan, Kalimantan Tengah

Kabupaten Seruyan membentang dari pesisir Laut Jawa hingga perbatasan Kalimantan Barat, dengan Sungai Seruyan sebagai sumbu yang menghubungkan hulu ke hilir. Lanskapnya beragam dari dataran rendah, gambut, rawa, hingga hutan lebat di bagian hulu. Di tengah perkebunan kelapa sawit sebagai penggerak ekonomi utama tersimpan nilai-nilai konservasi yang kaya dan membutuhkan perhatian kolektif. Di selatan, Seruyan berbagi batas dengan Taman Nasional Tanjung Puting, yang mengingatkan saya pada Camp Leakey dan kerja panjang Birutė Galdikas, dalam mempelajari evolusi manusia dari dekat.

Pendekatan kerja saya tentu berbeda dengan penelitian lapangan yang berlangsung berbulan-bulan di hutan. Sebagian besar waktu saya dihabiskan pada analisis spasial dan pola perubahan, dan pengalaman di Seruyan memberikan saya perspektif tambahan: bahwa apa yang saya lihat baru sebagian dari cerita. Sisanya adalah realitas di lapangan antara ekosistem, masyarakat, dan nilai yang saling terhubung yang pada akhirnya menentukan relevansi dari analisis yang kita lakukan, sejalan dengan kebutuhan para pihak dalam mengelola dan melindungi wilayah NKT di lanskap ini.

Dari proses itulah saya belajar bahwa salah satu kemampuan paling penting dalam pendekatan HCV adalah mendengarkan. Dalam konteks lanskap, mendengarkan berarti membuka ruang dialog dengan para pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat desa, kelompok adat, sektor swasta, dan organisasi lokal. Harapannya, proses ini tidak berhenti sebagai formalitas untuk memenuhi daftar representasi para pihak, tapi benar-benar menjadi wadah untuk menyelaraskan beragam persepsi. Dengan demikian, peta indikasi NKT dapat berkembang dari hasil interpretasi teknis menjadi representasi kenyataan yang diakui dan dimiliki oleh mereka yang hidup dalam lanskap tersebut.

Kegiatan konsultasi publik dengan desa untuk memvalidasi peta indikasi NKT

Pengalaman di Seruyan juga menegaskan bahwa teknologi baru memberi sebagian jawaban. Data berbasis remote sensing dapat menunjukkan di mana perubahan terjadi, tetapi apa yang harus dilakukan setelahnya selalu kembali kepada mereka yang bekerja di lanskap tersebut. Peta indikasi NKT yang disusun dari analisis teknis hanya memperoleh kekuatan ketika diverifikasi melalui konsultasi publik, disejajarkan dengan pemetaan partisipatif desa, diperbincangkan dalam forum multipihak, dan dipahami oleh pengguna akhirnya. Pendekatan yurisdiksi membuat proses ini lebih efisien, karena semua pihak duduk dalam kerangka kerja yang sama.

Dari Seruyan, saya belajar bahwa monitoring bukan hanya soal ketepatan data, tetapi juga soal bagaimana para pihak terhubung dan siap bekerja bersama ketika perubahan perlu ditangani. Di sinilah saya mulai memahami bahwa keberhasilan monitoring sangat ditentukan oleh ekosistem kolaborasinya.

Diskusi pengelolaan dan pemantauan area NKT dengan pemerintah daerah Kabupaten Seruyan
Berlanjut ke Merauke, Papua Selatan

Pembelajaran saya tidak berhenti di Seruyan. Bulan berikutnya, saya dihadapkan kembali dengan lanskap yang tidak kalah menarik. Kali ini letaknya di ujung timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Tujuan perjalanan kali ini adalah mengawali implementasi Penilaian Integritas Hutan (Forest Integrity Assessment/FIA) di kawasan konservasi Danau Bian. Jika Seruyan mengajarkan saya tentang pentingnya mendengarkan, maka Merauke memperluas pemahaman saya bahwa proses pemantauan yang selama ini saya kenal masih memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar mendeteksi perubahan.

Pulau Papua selalu punya ruang istimewa dalam ingatan saya. Sering disebut sebagai the last forest frontiers, bukan hanya karena luasnya hutan yang masih relatif utuh, tapi juga karena nilai ekologisnya yang tinggi. Ketika terbang dini hari dari Jakarta, hamparan hutan yang tampak dari jendela pesawat saat matahari terbit menandakan bahwa kita sudah berada di atas pulau ini.

Pemandangan hamparan hutan dari atas pesawat ketika melintasi Pulau Papua

Di Merauke, saya belajar mengintegrasikan FIA sebagai perpanjangan dari berbagai alat pemantauan yang selama ini saya gunakan. FIA merupakan pendekatan yang tidak hanya menilai apakah tutupan hutan masih ada, tetapi apakah hutan tersebut masih memiliki integritas ekologi yang memungkinkan fungsi-fungsinya tetap berjalan seperti keanekaragaman hayati, perlindungan tanah, air, hingga ketahanan terhadap gangguan.

Modal pengalaman saya sebelumnya mengajarkan bagaimana membaca pola fragmentasi tutupan lahan melalui analisis spasial dan deteksi cepat perubahan mingguan atau bulanan. Namun bekerja dengan FIA memberi saya lapisan pemahaman baru bahwa pemantauan hutan bukan hanya tentang apa yang hilang tetapi juga tentang kualitas dari apa yang tersisa. Melalui FIA, kondisi hutan dinilai lebih dalam seperti struktur dan komposisi tegakan hutan, tingkat gangguan, konektivitas habitat, regenerasi lanskap, hingga perjumpaan dengan satwa kunci wilayah tersebut.

Implementasi FIA bersama tim HCV PTBIA, BBKSDA Suaka Margasatwa Danau Bian, dan Masyarakat Kampung Waan

Dalam prosesnya, saya bekerja bersama tim lapangan, perwakilan pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat setempat. Adaptasi FIA sendiri memadukan tiga sumber informasi: data remote sensing, observasi lapangan, dan pemahaman lokal. Ketiganya membantu memastikan bahwa daftar periksa FIA yang kami gunakan benar-benar sesuai dengan konteks ekologi dan sosial kawasan Danau Bian.

Implementasi FIA di Merauke menunjukkan bahwa monitoring hutan bekerja paling efektif ketika berbagai alatnya dipahami sebagai sistem yang saling melengkapi. Peringatan near-real-time (NRT) sangat berguna untuk mengidentifikasi perubahan dalam hitungan minggu atau bulan—misalnya munculnya bukaan lahan baru atau perubahan pola aktivitas di suatu kawasan. Namun NRT tidak menjelaskan mengenai kondisi ekologis setelah perubahan itu terjadi.

FIA dapat mengisi celah tersebut melalui penilaian berkala yang lebih mendalam melalui penilaian struktur tegakan, tingkat gangguan , potensi regenerasi, dan indikator keanekaragaman hayati lainnya. Hasil penilaian tahunan FIA dapat menjadi acuan apakah pengelolaan kawasan konservasi sudah berjalan efektif atau membutuhkan penyesuaian. Dari proses ini saya belajar bahwa NRT memberi peringatan, sementara FIA memberi konteks dan arah. Digunakan bersama, keduanya memungkinkan pemantauan yang lebih utuh: cepat untuk mendeteksi perubahan, dan mendalam untuk memastikan bahwa nilai penting hutan tetap dapat dipertahankan.

Dan terakhir namun tidak kalah penting, Aceh di Sumatera

Pengalaman saya di Seruyan dan Merauke membuat saya kembali teringat pada prinsip-prinsip dasar konservasi yang sering dikemukakan oleh Birutė Galdikas atau Dian Fossey. Galdikas pernah menekankan bahwa mempelajari orangutan berarti bekerja di wilayah yang terpencil, minim infrastruktur, dan sering terabaikan Pernyataan ini mengingatkan saya bahwa banyak tantangan konservasi terbesar berada di tempat-tempat seperti ini, sulit dijangkau, luas, dan sering tidak terdata dengan baik.

Di sinilah teknologi remote sensing mengambil peran penting. Ia memungkinkan kita melihat perubahan dari jauh, memberikan peringatan awal di lokasi-lokasi yang hampir tidak mungkin dipantau secara langsung. Namun sebagaimana Galdikas menekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat lokal, pengalaman saya menunjukkan bahwa teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Semakin canggih alat yang kita gunakan, semakin penting konteks sosial, pengalaman lapangan, dan pengetahuan lokal untuk menafsirkan perubahan secara tepat.

Prinsip konservasi yang diperjuangkan Fossey antara lain pemantauan terus-menerus, respon cepat terhadap ancaman, dan intervensi tepat sasaran, menjadi pengingat bahwa pemantauan bukan hanya soal mendeteksi, tetapi tentang bertindak dengan informasi yang kita miliki. Kemajuan teknologi remote sensing dan cloud computing membuka peluang pemantauan yang lebih cepat, akurat, dalam skala yang cukup luas.

Setelah dari Merauke, kami berkesempatan memfasilitasi kegiatan peningkatan kapasitas HCV Screening dengan para pemangku kepentingan di Provinsi Aceh. Kegiatan ini dihadari oleh Pemerintah Daerah yang bekerja di bidang Kehutanan, Perkebunan, dan Pertanian, serta Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengawali isu Pembangunan berkelanjutan di Provinsi Aceh.

Melalui proses desktop assessment ini, kami memetakan potensi HCV beserta potensi ancamannya sebagai langkah awal sebelum turun ke tapak. Dari diskusi itu terlihat jelas bahwa peta perubahan tutupan lahan saja tidak cukup; yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang nilai apa yang ingin dilindungi, risiko apa yang mengancamnya, dan bagaimana informasi itu dapat diterjemahkan menjadi tindakan.

Screening menjadi titik awal untuk menyelaraskan pemahaman, memandu alokasi sumber daya, dan menetapkan area prioritas untuk langkah lanjutan seperti pemetaan pastisipatif, verifikasi lapangan, dan penilaian penuh. Dari proses ini, saya belajar bahwa data hanya akan bergerak ketika nilai di dalamnya dipahami bersama.

Dari pengalaman saya di Seruyan, Merauke, dan Aceh, saya melihat ada tiga hal utama yang membentuk cara pandang saya dalam menjembatani remote sensing dan pendekatan HCV: data tidak akan bergerak tanpa jaringan kolaborasi, kecepatan deteksi harus diimbangi kedalaman evaluasi, dan monitoring tanpa konteks nilai hanyalah deretan angka.

Refleksi – teknologi merupakan alat yang sangat kuat, namun pada akhirnya peran manusia dan kemitraan menjadi kunci utama dalam mendorong upaya konservasi

Teknologi mengisi ruang keterbatasan metode konvensional yang bergantung pada SDM, pembiayaan, dan akses wilayah. Namun enam bulan di HCVN mengingatkan saya kembali pada cerita bahwa teknologi baru separuh cerita. Separuh lainnya adalah nilai ekologis, sosial, dan budaya. Setelah melalui tiga pengalaman di ujung Indonesia yang berbeda—Seruyan, Merauke, dan Aceh—saya mulai memahami bahwa pemantauan hutan tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai proses teknis. Ia adalah perjalanan yang menghubungkan data, nilai, konteks sosial, dan kondisi ekologi di lapangan.

Saya yakin tahun berikutnya akan membawa fase pembelajaran berikutnya yang dapat membantu saya melengkapi bagian lain dari gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana pemantauan dan konservasi bekerja di lapangan. Perjalanan ini membuat saya sadar bahwa memahami lanskap adalah proses yang terus berkembang, dan setiap pengalaman baru selalu menambah cara pandang saya terhadap pekerjaan ini.

Mirzha memfasilitasi diskusi bersamapara pihak dalam rangka validasi peta indikasi NKT di Tingkat yurisdiksi

Related Posts

Menjembatani Teknologi dan Konservasi: Refleksi Project Manager HCV Network, Mirzha Hanifah, dari Tiga Inisiatif Lanskap di Indonesia
Case Studies
Landscapes & Jurisdictions
January 15, 2026
January 15, 2026

Menjembatani Teknologi dan Konservasi: Refleksi Project Manager HCV Network, Mirzha Hanifah, dari Tiga Inisiatif Lanskap di Indonesia

Read More
Bridging Technology and Conservation: Reflections from HCV Network’s Project Manager Mirzha Hanifah on her work in three landscape initiatives in Indonesia
Case Studies
Landscapes & Jurisdictions
January 15, 2026
January 15, 2026

Bridging Technology and Conservation: Reflections from HCV Network’s Project Manager Mirzha Hanifah on her work in three landscape initiatives in Indonesia

Read More
Musim Mas and HCV Network Pilot Farmer-Friendly High Conservation Value Tool in West Kalimantan
Case Studies
Agricultural & Smallholders
September 30, 2025
September 30, 2025

Musim Mas and HCV Network Pilot Farmer-Friendly High Conservation Value Tool in West Kalimantan

Read More

Our Partnerships

Alongside many global initiatives, our work with partners promotes practices that help meet the global Sustainable Development Goalsand build a greener, fairer, better world by 2030.

Get Involved

Our Mission as a network is to provide practical tools to conserve nature and benefit people, linking local actions with global sustainability targets.

We welcome the participation of organisations that share our vision and mission to protect and enhance High ConservationValues and the vital services they provide for people and nature. By collaborating with the Network, your organisation can contribute to safeguarding HCVs while gaining valuable insights and connections that support your sustainability goals.

We are seeking collaborative partners to help expand and enhance our work, as well as talented professionals who can join the growing Secretariat team, and for professionals who can contribute to the credible identification of High Conservation Values globally.

Join us in securing the world’s HCVs and shaping a sustainable future.