
Menjembatani Teknologi dan Konservasi: Refleksi Project Manager HCV Network, Mirzha Hanifah, dari Tiga Inisiatif Lanskap di Indonesia
Pada pertengahan Juli, saya melakukan perjalanan perdana ke Kabupaten Seruyan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Sertifikasi Yurisdiksi bersama mitra HCVN, Kaleka. Tujuan perjalanan ini mendampingi konsultasi publik untuk memvalidasi peta indikasi Nilai Konservasi Tinggi (NKT). Konsultasi ini dipadukan dengan hasil pemetaan partisipatif yang dilakukan Kaleka dalam memetakan tata guna lahan di masing-masing desa. Dalam proses Sertifikasi Yurisdiksi, baik pemetaan partisipatif di desa, hingga konsultasi publik untuk memvalidasi peta indikasi NKT, memiliki peran krusial karena keduanya memastikan bahwa informasi spasial yang digunakan dalam proses sertifikasi bukan hanya akurat secara teknis, melainkan juga memiliki legitimasi secara sosial.
Terbiasa membaca pola dan perubahan pada skala lanskap melalui citra satelit dan data spasial, perjalanan saya menuju Seruyan Hulu memberi kesempatan merefleksikan bagaimana proses verifikasi sosial seperti konsultasi publik menjadi jembatan penting agar peta NKT tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga relevan dan dapat digunakan dalam pengambilan keputusan oleh mereka yang mengelola dan bergantung pada lanskap tersebut.
Berawal dari Seruyan, Kalimantan Tengah
Kabupaten Seruyan membentang dari pesisir Laut Jawa hingga perbatasan Kalimantan Barat, dengan Sungai Seruyan sebagai sumbu yang menghubungkan hulu ke hilir. Lanskapnya beragam dari dataran rendah, gambut, rawa, hingga hutan lebat di bagian hulu. Di tengah perkebunan kelapa sawit sebagai penggerak ekonomi utama tersimpan nilai-nilai konservasi yang kaya dan membutuhkan perhatian kolektif. Di selatan, Seruyan berbagi batas dengan Taman Nasional Tanjung Puting, yang mengingatkan saya pada Camp Leakey dan kerja panjang Birutė Galdikas, dalam mempelajari evolusi manusia dari dekat.
Pendekatan kerja saya tentu berbeda dengan penelitian lapangan yang berlangsung berbulan-bulan di hutan. Sebagian besar waktu saya dihabiskan pada analisis spasial dan pola perubahan, dan pengalaman di Seruyan memberikan saya perspektif tambahan: bahwa apa yang saya lihat baru sebagian dari cerita. Sisanya adalah realitas di lapangan antara ekosistem, masyarakat, dan nilai yang saling terhubung yang pada akhirnya menentukan relevansi dari analisis yang kita lakukan, sejalan dengan kebutuhan para pihak dalam mengelola dan melindungi wilayah NKT di lanskap ini.
Dari proses itulah saya belajar bahwa salah satu kemampuan paling penting dalam pendekatan HCV adalah mendengarkan. Dalam konteks lanskap, mendengarkan berarti membuka ruang dialog dengan para pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat desa, kelompok adat, sektor swasta, dan organisasi lokal. Harapannya, proses ini tidak berhenti sebagai formalitas untuk memenuhi daftar representasi para pihak, tapi benar-benar menjadi wadah untuk menyelaraskan beragam persepsi. Dengan demikian, peta indikasi NKT dapat berkembang dari hasil interpretasi teknis menjadi representasi kenyataan yang diakui dan dimiliki oleh mereka yang hidup dalam lanskap tersebut.

Pengalaman di Seruyan juga menegaskan bahwa teknologi baru memberi sebagian jawaban. Data berbasis remote sensing dapat menunjukkan di mana perubahan terjadi, tetapi apa yang harus dilakukan setelahnya selalu kembali kepada mereka yang bekerja di lanskap tersebut. Peta indikasi NKT yang disusun dari analisis teknis hanya memperoleh kekuatan ketika diverifikasi melalui konsultasi publik, disejajarkan dengan pemetaan partisipatif desa, diperbincangkan dalam forum multipihak, dan dipahami oleh pengguna akhirnya. Pendekatan yurisdiksi membuat proses ini lebih efisien, karena semua pihak duduk dalam kerangka kerja yang sama.
Dari Seruyan, saya belajar bahwa monitoring bukan hanya soal ketepatan data, tetapi juga soal bagaimana para pihak terhubung dan siap bekerja bersama ketika perubahan perlu ditangani. Di sinilah saya mulai memahami bahwa keberhasilan monitoring sangat ditentukan oleh ekosistem kolaborasinya.

Berlanjut ke Merauke, Papua Selatan
Pembelajaran saya tidak berhenti di Seruyan. Bulan berikutnya, saya dihadapkan kembali dengan lanskap yang tidak kalah menarik. Kali ini letaknya di ujung timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Tujuan perjalanan kali ini adalah mengawali implementasi Penilaian Integritas Hutan (Forest Integrity Assessment/FIA) di kawasan konservasi Danau Bian. Jika Seruyan mengajarkan saya tentang pentingnya mendengarkan, maka Merauke memperluas pemahaman saya bahwa proses pemantauan yang selama ini saya kenal masih memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar mendeteksi perubahan.
Pulau Papua selalu punya ruang istimewa dalam ingatan saya. Sering disebut sebagai the last forest frontiers, bukan hanya karena luasnya hutan yang masih relatif utuh, tapi juga karena nilai ekologisnya yang tinggi. Ketika terbang dini hari dari Jakarta, hamparan hutan yang tampak dari jendela pesawat saat matahari terbit menandakan bahwa kita sudah berada di atas pulau ini.

Di Merauke, saya belajar mengintegrasikan FIA sebagai perpanjangan dari berbagai alat pemantauan yang selama ini saya gunakan. FIA merupakan pendekatan yang tidak hanya menilai apakah tutupan hutan masih ada, tetapi apakah hutan tersebut masih memiliki integritas ekologi yang memungkinkan fungsi-fungsinya tetap berjalan seperti keanekaragaman hayati, perlindungan tanah, air, hingga ketahanan terhadap gangguan.
Modal pengalaman saya sebelumnya mengajarkan bagaimana membaca pola fragmentasi tutupan lahan melalui analisis spasial dan deteksi cepat perubahan mingguan atau bulanan. Namun bekerja dengan FIA memberi saya lapisan pemahaman baru bahwa pemantauan hutan bukan hanya tentang apa yang hilang tetapi juga tentang kualitas dari apa yang tersisa. Melalui FIA, kondisi hutan dinilai lebih dalam seperti struktur dan komposisi tegakan hutan, tingkat gangguan, konektivitas habitat, regenerasi lanskap, hingga perjumpaan dengan satwa kunci wilayah tersebut.

Dalam prosesnya, saya bekerja bersama tim lapangan, perwakilan pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat setempat. Adaptasi FIA sendiri memadukan tiga sumber informasi: data remote sensing, observasi lapangan, dan pemahaman lokal. Ketiganya membantu memastikan bahwa daftar periksa FIA yang kami gunakan benar-benar sesuai dengan konteks ekologi dan sosial kawasan Danau Bian.

Implementasi FIA di Merauke menunjukkan bahwa monitoring hutan bekerja paling efektif ketika berbagai alatnya dipahami sebagai sistem yang saling melengkapi. Peringatan near-real-time (NRT) sangat berguna untuk mengidentifikasi perubahan dalam hitungan minggu atau bulan—misalnya munculnya bukaan lahan baru atau perubahan pola aktivitas di suatu kawasan. Namun NRT tidak menjelaskan mengenai kondisi ekologis setelah perubahan itu terjadi.
FIA dapat mengisi celah tersebut melalui penilaian berkala yang lebih mendalam melalui penilaian struktur tegakan, tingkat gangguan , potensi regenerasi, dan indikator keanekaragaman hayati lainnya. Hasil penilaian tahunan FIA dapat menjadi acuan apakah pengelolaan kawasan konservasi sudah berjalan efektif atau membutuhkan penyesuaian. Dari proses ini saya belajar bahwa NRT memberi peringatan, sementara FIA memberi konteks dan arah. Digunakan bersama, keduanya memungkinkan pemantauan yang lebih utuh: cepat untuk mendeteksi perubahan, dan mendalam untuk memastikan bahwa nilai penting hutan tetap dapat dipertahankan.
Dan terakhir namun tidak kalah penting, Aceh di Sumatera
Pengalaman saya di Seruyan dan Merauke membuat saya kembali teringat pada prinsip-prinsip dasar konservasi yang sering dikemukakan oleh Birutė Galdikas atau Dian Fossey. Galdikas pernah menekankan bahwa mempelajari orangutan berarti bekerja di wilayah yang terpencil, minim infrastruktur, dan sering terabaikan Pernyataan ini mengingatkan saya bahwa banyak tantangan konservasi terbesar berada di tempat-tempat seperti ini, sulit dijangkau, luas, dan sering tidak terdata dengan baik.
Di sinilah teknologi remote sensing mengambil peran penting. Ia memungkinkan kita melihat perubahan dari jauh, memberikan peringatan awal di lokasi-lokasi yang hampir tidak mungkin dipantau secara langsung. Namun sebagaimana Galdikas menekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat lokal, pengalaman saya menunjukkan bahwa teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Semakin canggih alat yang kita gunakan, semakin penting konteks sosial, pengalaman lapangan, dan pengetahuan lokal untuk menafsirkan perubahan secara tepat.
Prinsip konservasi yang diperjuangkan Fossey antara lain pemantauan terus-menerus, respon cepat terhadap ancaman, dan intervensi tepat sasaran, menjadi pengingat bahwa pemantauan bukan hanya soal mendeteksi, tetapi tentang bertindak dengan informasi yang kita miliki. Kemajuan teknologi remote sensing dan cloud computing membuka peluang pemantauan yang lebih cepat, akurat, dalam skala yang cukup luas.
Setelah dari Merauke, kami berkesempatan memfasilitasi kegiatan peningkatan kapasitas HCV Screening dengan para pemangku kepentingan di Provinsi Aceh. Kegiatan ini dihadari oleh Pemerintah Daerah yang bekerja di bidang Kehutanan, Perkebunan, dan Pertanian, serta Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengawali isu Pembangunan berkelanjutan di Provinsi Aceh.
Melalui proses desktop assessment ini, kami memetakan potensi HCV beserta potensi ancamannya sebagai langkah awal sebelum turun ke tapak. Dari diskusi itu terlihat jelas bahwa peta perubahan tutupan lahan saja tidak cukup; yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang nilai apa yang ingin dilindungi, risiko apa yang mengancamnya, dan bagaimana informasi itu dapat diterjemahkan menjadi tindakan.
Screening menjadi titik awal untuk menyelaraskan pemahaman, memandu alokasi sumber daya, dan menetapkan area prioritas untuk langkah lanjutan seperti pemetaan pastisipatif, verifikasi lapangan, dan penilaian penuh. Dari proses ini, saya belajar bahwa data hanya akan bergerak ketika nilai di dalamnya dipahami bersama.
Dari pengalaman saya di Seruyan, Merauke, dan Aceh, saya melihat ada tiga hal utama yang membentuk cara pandang saya dalam menjembatani remote sensing dan pendekatan HCV: data tidak akan bergerak tanpa jaringan kolaborasi, kecepatan deteksi harus diimbangi kedalaman evaluasi, dan monitoring tanpa konteks nilai hanyalah deretan angka.
Refleksi – teknologi merupakan alat yang sangat kuat, namun pada akhirnya peran manusia dan kemitraan menjadi kunci utama dalam mendorong upaya konservasi
Teknologi mengisi ruang keterbatasan metode konvensional yang bergantung pada SDM, pembiayaan, dan akses wilayah. Namun enam bulan di HCVN mengingatkan saya kembali pada cerita bahwa teknologi baru separuh cerita. Separuh lainnya adalah nilai ekologis, sosial, dan budaya. Setelah melalui tiga pengalaman di ujung Indonesia yang berbeda—Seruyan, Merauke, dan Aceh—saya mulai memahami bahwa pemantauan hutan tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai proses teknis. Ia adalah perjalanan yang menghubungkan data, nilai, konteks sosial, dan kondisi ekologi di lapangan.
Saya yakin tahun berikutnya akan membawa fase pembelajaran berikutnya yang dapat membantu saya melengkapi bagian lain dari gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana pemantauan dan konservasi bekerja di lapangan. Perjalanan ini membuat saya sadar bahwa memahami lanskap adalah proses yang terus berkembang, dan setiap pengalaman baru selalu menambah cara pandang saya terhadap pekerjaan ini.

Related Posts
Menjembatani Teknologi dan Konservasi: Refleksi Project Manager HCV Network, Mirzha Hanifah, dari Tiga Inisiatif Lanskap di Indonesia
Read MoreBridging Technology and Conservation: Reflections from HCV Network’s Project Manager Mirzha Hanifah on her work in three landscape initiatives in Indonesia
Read MoreMusim Mas and HCV Network Pilot Farmer-Friendly High Conservation Value Tool in West Kalimantan
A New Approach to Conservation in Smallholder Landscapes
Read MoreOur Partnerships
Alongside many global initiatives, our work with partners promotes practices that help meet the global Sustainable Development Goalsand build a greener, fairer, better world by 2030.


Femexpalma
In April 2022, FEMEXPALMA and the HCV Network signed a 5-year cooperation agreement to promote sustainable production of palm oil in Mexico. FEMEXPALMA is a Mexican independent entity that represents palm production at the national level and promotes the increase of productivity in a sustainable way.
With global markets becoming stricter, for Mexican producers to be able to export to key markets such as the European Union, they must meet strict requirements such as certification by the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). To be certified by RSPO, the HCV Approach must be applied prior to the establishment of any new oil palm plantations. With this cooperation agreement, the HCV Network will support FEMEXPALMA’s members and allies to design better strategies to identify, manage and monitor High Conservation Values and support smallholders to achieve RSPO certification and implement good agricultural practices.


High Carbon Stock Approach
The High Carbon Stock Approach (HCSA) is an integrated conservation land use planning tool to distinguish forest areas in the humid tropics for conservation, while ensuring local peoples’ rights and livelihoods are respected.
In September 2020, HCV Network and the HCSA Steering Group signed a five-year Memorandum of Understanding (MoU) to strengthen their collaboration to conserve forests and uphold community rights in tropical forests. The HCS and HCV Approaches are cornerstones of corporate no deforestation and conservation commitments, and increasingly for actors working at different scales. The collaboration aims to further support effective implementation of these commitments through increased uptake of the HCV and HCS tools.
Through this MoU, HCSA and HCVRN are pursuing two main strategic goals:
- Strive to promote the application of the two approaches in tropical moist forest landscapes and explore further opportunities for collaboration.
- Ensure that, where the two approaches are applied together, this happens in a coordinated, robust, credible, and efficient manner, so that HCS forests and HCVs are conserved, and local peoples’ rights are respected.


World Benchmarking Alliance
From May 2022, the HCV Network is an ally at the World Benchmarking Alliance (WBA). WBA is building a diverse and inclusive movement of global actors committed to using benchmarks to incentivise, measure, and monitor corporate performance on the SDGs, and will assess and rank the performance of 2,000 of the world’s most influential companies against seven systems of transformation by 2023.
The scope of WBA’s circular transformation was expanded to cover nature and biodiversity as recognition of the need for greater understanding, transparency and accountability of business impact on our environment. The WBA Nature Benchmark was launched in April 2022, which will be used to rank keystone companies on their efforts to protect our environment and its biodiversity. As HCV Areas are recognised as key areas important for biodiversity, companies that publicly disclose their actions to identify and protect HCVs will contribute to the assessment of their performance against the benchmark.


Taskforce on Nature-related Financial Disclosures - TNFD
The Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) is a global, market-led initiative, established with the mission to develop and deliver a risk management and disclosure framework for organizations to report and act on evolving nature-related risks, with the aim of supporting a shift in global financial flows away from nature-negative outcomes and toward nature-positive outcomes.
In April 2022, the HCV Network joined the TNFD Forum. The TNFD Forum, composed of over 400 members, is a world-wide and multi-disciplinary consultative network of institutional supporters who share the vision and mission of the task force.
By participating in the Forum, the HCV Network contributes to the work and mission of the taskforce and help co-create the TNFD Framework which aims to provide recommendations and advice on nature-related risks and opportunities relevant to a wide range of market participants, including investors, analysts, corporate executives and boards, regulators, stock exchanges and accounting firms.


Aquaculture Stewardship Council
The Aquaculture Stewardship Council (ASC) is the world’s leading certification scheme for farmed seafood – known as aquaculture – and the ASC label only appears on food from farms that have been independently assessed and certified as being environmentally and socially responsible. In 2021, the HCV Network and ASC formalised their collaboration through a Memorandum of Understanding (MoU). The MoU represents the first step in a fruitful relationship aimed at conserving HCVs in aquaculture. Although, existing guidance on the use of the HCV Approach currently focuses mainly on forestry and agriculture, the HCV Approach is however generic, and in principle also applicable to aquatic production systems. Through this MoU, this is recognised by the Aquaculture Stewardship Council (ASC) in their ASC farm standard, in which the protection of HCV areas is mentioned in the context of expansion


Accountability Framework Initiative
The Accountability Framework initiative (AFi) is a collaborative effort to build and scale up ethical supply chains for agricultural and forestry products. Led by a diverse global coalition of environmental and human rights organizations, the AFi works to create a “new normal” where commodity production and trade are fully protective of natural ecosystems and human rights. To pursue this goal, the coalition supports companies and other stakeholders in setting strong supply chain goals, taking effective action, and tracking progress to create clear accountability and incentivize rapid improvement. In July 2022, the HCV Network joined AFi as a Supporting Partner. AFi Supporting Partners extend the reach and positive impact of the AFi by promoting use of the Accountability Framework by companies, industry groups, financial institutions, governments, and other sustainability initiatives, both globally and in commodity-producing countries.


Biodiversity Credit Alliance
The Biodiversity Credit Alliance (BCA) is a global multi-disciplinary advisory group formed in late 2022. Its mission is to bring clarity and guidance on the formulation of a credible and scalable biodiversity credit market under global biodiversity credit principles. Under these principles, the BCA seeks to mobilize financial flows towards biodiversity custodians while recognising local knowledge and contexts.
The HCVN joined the BCA Forum in August 2023 to learn more from the many organizations already coming together to find effective pathways to opening up credit-based approaches, and how to contribute our knowledge and experience of years of working in a practical way, often with global sustainability standards and their certified producers, to protect what matters most to nature and people.
.webp)
.webp)
Nature Positive Forum
The Nature Positive Initiative is a group of stakeholders coming together to find ways to unlock success and achieve Nature Positive - a global societal goal defined as ‘halt and reverse nature loss by 2030 on a 2020 baseline, and achieve full recovery by 2050’, in line with the mission of the Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework.
Core work includes preserving the integrity of ‘Nature Positive’ as a measurable 2030 global goal for nature for business, government, and other stakeholders, and providing the tools and guidance necessary to allow all to contribute. The initiative also advocates for the full implementation of the Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework by governments and other stakeholders.


IUCN
IUCN is a membership Union uniquely composed of both government and civil society organisations. It provides public, private, and non-governmental organisations with the knowledge and tools that enable human progress, economic development, and nature conservation to take place together.
Created in 1948, IUCN is now the world’s largest and most diverse environmental network, harnessing the knowledge, resources and reach of more than 1,400 Member organisations and around 15,000 experts. It is a leading provider of conservation data, assessments, and analysis. Its broad membership enables IUCN to fill the role of incubator and trusted repository of best practices, tools, and international standards.
IUCN provides a neutral space in which diverse stakeholders including governments, NGOs, scientists, businesses, local communities, indigenous peoples’ organisations, and others can work together to forge and implement solutions to environmental challenges and achieve sustainable development.
Working with many partners and supporters, IUCN implements a large and diverse portfolio of conservation projects worldwide. Combining the latest science with the traditional knowledge of local communities, these projects work to reverse habitat loss, restore ecosystems, and improve people’s well-being.

Get Involved
Our Mission as a network is to provide practical tools to conserve nature and benefit people, linking local actions with global sustainability targets.
We welcome the participation of organisations that share our vision and mission to protect and enhance High ConservationValues and the vital services they provide for people and nature. By collaborating with the Network, your organisation can contribute to safeguarding HCVs while gaining valuable insights and connections that support your sustainability goals.
We are seeking collaborative partners to help expand and enhance our work, as well as talented professionals who can join the growing Secretariat team, and for professionals who can contribute to the credible identification of High Conservation Values globally.
Join us in securing the world’s HCVs and shaping a sustainable future.
